Kedudukan sejarah di dalam masyarakat sama pentingnya dengan Kartu Tanda Penduduk (KTP) yang memuat informasi tentang asal-usul seseorang. Begitupula sejarah, ia memberikan informasi mengenai dari mana dan bagaimana sebuah masyarakat bisa timbul dan menempati sebuah wilayah tertentu. Tak bisa dibayangkan bilamana ada sekelompok masyarakat yang tidak bisa menjelaskan dari mana mereka berasal, siapa pendahulu mereka di masa yang lalu. Mungkin saja bisa ada: mereka yang terdiri dari sekumpulan orang-orang yang mengidap amnesia.
Culik
Posted in Politik on March 10, 2008 by bonnietriyanaMungkin Anda masih ingat bagaimana cara orangtua melarang kita untuk main: “Awas, nanti ada culik, lho!” Ya, kata culik memang sudah akrab sejak kita masih kecil. Imajinasi kita terhadap culik pun beragam macam bentuknya. Mulai dari kalong wewe gombel, sejenis hantu perempuan berambut panjang yang gemar menculik anak-anak kecil, hingga culik modern yang berambut gondrong lengkap dengan senjata di tangan ala mafioso Sisilia nun di Italia sana.
Burjo, Tauge, Kucai
Posted in Asal Usul on March 10, 2008 by bonnietriyanaJika Anda hidup di Pulau Jawa sebelum abad 19 jangan pernah berharap bisa menyantap bubur kacang hijau. Bubur kacang hijau atau beken disebut burjo yang dibuat dari kacang hijau dicampur gula merah, santan dan ketan hitam memang belum hadir di nusantara pada abad itu. Karena kacang hijau (phaseolus radiatus) bahan baku utama makanan tersebut baru hadir dan dikenal luas di Jawa sekira pertengan abad 19.
Jalan Berliku Anak Kemusuk
Posted in Tokoh on March 10, 2008 by bonnietriyanaIndonesia pada masa Orde Baru adalah antitesis kehidupan Soeharto di masa kecil.
“Saya mengalami banyak penderitaan yang tidak mungkin dialami oleh orang-orang lain,” ujar Soeharto dalam otobiografinya. Kehidupan Soeharto memang suram: terlahir dari orangtua yang bercerai dan harus hidup berpindah-pindah asuhan semasa belia samapi dengan remaja. Bahkan sekalipun diukur dari standar kehidupan keluarga di Jawa pada masa itu, ketika perceraian dianggap hal biasa, hidup Soeharto terlalu nelangsa untuk dibandingkan dengan yang lain. Kedua orangtua Soeharto, Kertosudiro dan Sukirah bercerai selang lima minggu setelah kelahirannya pada 8 Juni 1921. Ayahnya menikah lagi, begitu juga dengan Sukirah dua tahun setelah perceraiannya.
Ruh Perlawanan Putra Sang Fajar
Posted in Tokoh on June 21, 2007 by bonnietriyanaBung Karno adalah lawan yang niscaya bagi kolonialisme dan imperialisme
Bandung, 18 Agustus 1930. Gedung pengadilan yang terletak di Jalan Landraad itu penuh sesak oleh manusia. Mereka menggeremut, berjubel, bak semut mengerubungi gula. Hari itu, seorang pemuda berperawakan tinggi-tegap nan tampan, lengkap dengan jas warna putih, pentalon dan kopiah hitamnya melangkah tegar menghadapi tuan-tuan penegak hukum kolonial Belanda. Sorot matanya tajam, menyala-nyala, menunjukkan keberaniannya.
Tahsin: Tokoh Pers Terlupakan
Posted in Tokoh on April 28, 2007 by bonnietriyanaBangsa Indonesia adalah bangsa pelupa. Penyakit lupa itu tidak terlepas dari politik ingatan yang diberlakukan oleh pemerintah Orde Baru melalui rekayasa penulisan sejarah. Ingatan yang ditampilkan oleh Orde Baru seringkali bersifat selektif, parsial dan selalu mengacu pada pernyataan resmi pemerintah.
Semisal, pada masa Orde Baru, hari kesaktian Pancasila selalu dirayakan tanggal 1 Oktober setiap tahunnya. Sedangkan hari lahir Pancasila 1 Juni tak pernah diperingati. Soeharto juga digembar-gemborkan sebagai bapak pembangunan, kendati di balik suksesnya pembangunan (ekonomi), masih ada sebagian kelompok masyarakat yang tertindas hak-haknya.
Tirto Adhi Soerjo
Posted in Tokoh on November 10, 2006 by bonnietriyanaTanggal 10 November 2006 lalu Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono menetapkan Tirto Adhi Soerjo sebagai pahlawan, sebuah gelar yang layak dianugerahkan kepada Sang Pemula ini.
Dari sekian banyak tokoh jurnalis di negeri ini, Raden Mas Tirto Adhi Soerjo adalah salah satu tokoh pribumi yang merintis dasar-dasar kebangsaan Indonesia. Keberaniannya dalam membela kepentingan rakyat telah menyentuh sisi-sisi yang saat itu terlupakan oleh rakyat Hindia Belanda: sebagai bangsa yang terjajah.